Rabu, 29 September 2010

Hidupku Untuk musik


            Kepribadiannya yang tegas dan penuh percaya diri, dialah Edi Supriadi, atau yang sangat akrab disapa pak Edi. Beliau adalah seorang musisi sejati kelahiran Bandung 25 maret, 44 tahun lalu. Saya bertemu dengan beliau ketika sedang bermain keyboard di salah satu restauran ternama di Bandung. Alunan melodinya yang teratur dan tanpa keraguan itu membuat saya tertarik untuk bertanya beberapa hal kepadanya.
            Asal punya usul, ternyata beliau tidak tamat pendidikan Sekolah Dasar. Beliau berhenti sekolah di usianya yang ke 11 tahun, atau kelas 5 sekolah dasar, karena kondisi ekonomi keluarganya yang tidak mencukupi. Sejak itu, beliau “mengamen” untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dibekali oleh ilmu bergitar yang diajari oleh kakaknya, beliau mengamen layaknya pengamen-pengamen jalanan umumnya. “Om itu dulu temen ngamennya Iwan Fals, sebelum dia terkenal, dia sering ngamen bareng om di dekat Saparua, ada salah satu lagunya yang ciptaan om, judulnya Rindu Tebal.” Ceritanya sekilas.  Beliau mengaku senang mengamen, dalam memainkan musiknya, beliau tidak pernah langsung pergi ketika diberi uang. Tidak seperti pengamen-pengamen lainnya, beliau menyanyi bukan karena duit, tapi karena memang ingin menyanyi, “kecuali kalau memang diusir sama yang punya rumah, hahaha.” Tambahnya.
            Setelah lama bergelut dengan gitar, beliau beralih kepada Keyboard. “Kalau keyboard itu lebih elit, dan lebih mudah, penghasilan juga bisa lebih banyak, karena tidak main di jalanan.” Ucapnya tegas. Pendapatannya sekali main bisa sampai 1,5 juta rupiah, kalau merupakan event-event besar atau acara pribadi, dan sekitar Rp.200.000,- per har, kalau main di cafe, tergantung tempatnya itu sendiri. Tapi saat itu beliau tidak dibayar oleh restauran tempat dia bermain, beliau mengaku hanya meminta izin untuk bermain, dan mendapatkan uang “partisipasi ngamen” dari para pelanggan restauran. Beliau juga mengajar les keyboar privat ke rumah-rumah, anak anak didikannya mengaku lebih luwes bermain dan “feelingnya” lebih dapet dibanding anak-anak yang belajar dari tempat les ternama. Sedikit kata terakhir dari beliau “Lakukan hal-hal positif yang sesuai dengan hatimu, kelak hasilnya pun akan menyenangkan hatimu, dan tidak akan jadi beban walau bagaimana juga.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar